Suratku untuk ayah

Ayah, aku tau aku sering menyakitimu. Seiring bertambahnya umurku aku sering kali melupakan perasaanmu.
sering kali tak setuju dengan cara pandangmu dalam menilai sesuatu.
Sering kali terlalu jujur terhadapmu. penilaianmu tidak lagi sebijak dulu.
Ada apa ayah?
Dulu ayah sangat sabar dalam menghadapiku. Sabar itu masih ada dalam dirimu aku tau.
Mengapa adik tidak iba terhadapmu? Kemana rasa sayangmu yg teramat sangat dulu kepadanya?
Saat ibu menyekolahkan dia jauh sekali diumurnya yg masih kecil sekali. Dan hanya engkau yg selalu rindu kepadanya. Kemana perginya rasa itu ayah?
Apa ini semua karna situasi ekonomi kita?
Atau karna ayah yg tidak lagi bahagia dg ibu?
Ada apa dengan keluarga kita ayah?
Aku tahu ayah menyayangiku sangat menyayangiku.
Tetapi apa mereka tau dan merasakan kasih sayangmu.
Tidak bisakah ayah lupakan semua kekecewaan terhadap kami karna belum bisa menjadi sesuai yg kalian inginkan.
Tidak bisakah ayah menerima kakak dan lupakan semua masa lalu kakak.
Tidak bisakah ayah menerima adik adik dan tabiatnya.
Tersenyumlah saat melihat kami. Peluk eratlah anak2mu ini.
Karna inilah kami. Hasil didikan ayah dan ibu. Dia tetap kakakku dan mereka tetap adik2ku.